Sunday, May 31, 2015

OLEH :
  ZENDY PRARIYANI KARTIKA PUTRI
  NIM : 20130661020
  SEMESTER 4A - D3 KEBIDANAN
  UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA


Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil dengan Varises di Rs X Surabaya


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kehamilan adalah suatu kejadian fisiologis, yang dimulai dengan konsepsi (pembuahan) dan berakhir dengan permulaan persalinan. Pada saat kehamilan terjadi ketidak nyamanan yaitu salah satunya varises. Varises adalah terjadinya pembuluh darah bengkak dan membesar yang biasanya berwarna biru.

Angka kejadian varises cukup besar. Suhartono mengatakan, wanita dewasa memiliki risiko 25-50 persen mengalami varises terutama pada kehamilan, 2/3 kasus dijumpai pada trimester pertama kehamilan. Namun, varises juga bisa muncul pada bulan-bulan berikutnya. 1/4 kasusnya bisa dilihat saat tiga bulan berikutnya, dan pada minggu-minggu terakhir kehamilan justru angka kejadiannya hanya mencapai 5%.  Resiko varises akan semakin besar pada ibu yang mengalami kehamilan pada usia 40 tahun keatas. (Kompas, 2013).

Varises terjadi karena adanya pembuluh darah balik (vena) yang mengakibatkan penurunan pada dinding vena. Varises dapat terjadi di kaki (terutama di belakang lutut), pada keadaan wasir atau diarea kewanitaan. Varises yang terjadi pada kehamilan karena hormon progesteron kehamilan. Pertumbuhan janin memberikan tekanan pada pembuluh darah di panggul dan pada pembuluh darah besar. Vena memiliki katup yang menghentikan darah yang kembali ke jantung dari mengalir mundur. Ketika katup ini tidak bekerja dengan baik pembuluh darah menjadi sesak dan mengakibatkan darah bertambahan. Dinding pembuluh darah mulai meregang dan membengkak vena, membuatnya terlihat di bawah kulit.

Meskipun varises tidak akan menggangu perkembangan janin anda akan tetapi kondisi yang semakin buruk dari varises mungkin terjadi dikarenakan  kelebihan berat badan ketika anda hamil, keadaan berat badan janin anda, atau kehamilan bayi kembar. Jika varises ini tidak bisa ditangani, akan membahayakan janin. Varises dapat meyebabkan pecahnya pembuluh darah. Hal ini dapat membahayakan kondisi janin. Bahkan, pada kondisi terburuk, dapat menyebabkan kematian janin. Varises yang terdapat pada area kewanitaan akan menghambat persalinan, pada kondisi yang parah akan mengakibatkan persalinan caesar. Varises juga bisa menyebabkan emboli udara (adanya gelembung udara dalam aliran darah yang normalnya tidak ada). Pembuluh darah yang terlalu lebar dapat mengakibatkan aliran balik ke bawah yang lebih hebat lagi. Bila gelembung udara pada emboli ini berhenti dan menyumbat aliran darah, Inilah yang mengakibatkan kematian mendadak ibu (Mirza Maulana, 2008: 83 - 85).

Untuk menanggulangi varises pada ibu hamil, kita perlu menganjurkan untuk konsumsi makanan sehat dengan Jus buah, terutama blueberry  dapat membantu mencegah varises. Buah ini mengandung pigmen yang dapat memperkuat dinding pembuluh darah. Kemudian, mencukupi kebutuhan cairan tubuh dengan air mineral setidaknya delapan gelas air setiap hari, dan membatasi minum teh, kopi, dan cola karena dapat membuat varises lebih menyakitkan dan menyebabkan sembelit terutama saat hamil. Berolahraga teratur akan mengurangi penumpukan lemak, sekaligus menjaga sirkulasi yang baik dan pembuluh darah Anda. Cobalah berjalan, berenang atau  kelas olahraga kehamilan ringan. Hindari latihan aerobik yang berlebihan, seperti bersepeda dan jogging, meningkatkan tekanan pada pembuluh darah di kaki. Hindari menggunakan sepatu hak tinggi pada masa kehamilan, Hindari pula duduk atau jongkok untuk waktu yang lama, dan mencoba untuk tidak duduk dengan kaki disilangkan.

Cobalah dengan menggunakan air dingin untuk merengangkan otot otot tanpa melakukan pemijatan atau coba mengompres kain yang direndam dalam cuka sari apel untuk kaki, dua kali sehari. Bagi ibu hamil yang mengalami varises semakin parah sebaiknya berkonsultasi kepada dokter untuk mendapatkan penanganan yang lebih lanjut.

Kurangnya pengetahuan ibu hamil tentang kejadian varises pada kehamilan dapat mengakibatkan semakin banyaknya ibu hamil yang menderita varises yang tidak bisa ditangani, sehingga angka kesakitan dan kematian ibu dan janin meningkat. Maka diperlukan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan varises dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan ibu, deteksi dini, dan mengurangi risiko pada kehamilan.



1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian diatas, maka di rumuskan masalah sebagai berikut “Bagaimana Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil dengan Varises di Rs X Surabaya”.

1.3     Tujuan
1.3.1   Tujuan Umum
Penyusun dapat menerapkan dan mengembangkan pola pikir secara ilmiah serta dapat mengimplementasikan antara teori dengan kasus yang ada di lahan dalam memberikan asuhan kebidanan menggunakan metode varney pada ibu hamil dengan varises.

1.3.2   Tujuan Khusus
Diharapkan mahasiswa mampu :
1.      Melakukan pengkajian datapada ibu hamil dengan varises
2.      Menentukan interpretasi data dasar pada ibu hamil dengan varises.
3.      Mengidentifikasi diagnose dan masalah potensial pada ibu hamil dengan varises.
4.     Mengidentifikasi kebutuhan akan tindakan segera atau kolaborasi pada ibu hamil dengan varises.
5.      Merencanakan asuhan yang menyeluruh pada ibu hamil dengan varises.
6.      Melakukan rencana asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan varises.
7.      Mengevaluasi tindakan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan varises.

1.4    Manfaat
1.4.1   Bagi Penulis
Dapat melakukan asuhan kebidanan serta dapat menambah wawasan dan pengetahuan pada ibu hamil dengan varises.

1.4.2             Bagi Klien
Dapat mengetahui tentang ketidak nyamanan dan  dapat mencegah masalah terutama yang berhubungan pada ibu hamil dengan varises.


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Varises sendiri merupakan kelainan pada pembuluh darah balik (vena), di mana terjadi penurunan atau hilangnya elastisitas dinding vena, vena yang berkelok-kelok, menonjol dan berbelit dan kerusakan katup. Varises sering terdapat pada ekstermitas bawah karena efek gravitasi pada tekanan vena.

2.2 Etiologi
Pada 1981, trendelenburg memperhatikan bahwa varises diakibatkan oleh katup-katup vena yang tidak kompenten dan tekanan hidrostatik yang tidak normal pada ekstermitas bawah.

Pada umur 40 tahun, 25% pria dan lebih dari 50% wanita mengalami varises. Ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan kemungkinan adanya varises yaitu,:
a.      Kehamilan ganda
b.      Obesitas
c.       Terlalu lama berdiri atau duduk
d.      Akibat dari penyakit, seperti sirosis dan kegagalan jantung kanan.
e.      Faktor keturunan keluarga terkait dengan adanya gangguan katup vena
f.        Hormonal
g.      Peningkatan tekanan darah abdominal
h.      Obat-obatan
i.        Bekas cedera benda tumpul di daerah kaki

Varises vena terjadi terutama pada ekstermitas bawah. Daerah vena pada ekstermitas bawah beredar dengan melawan gravitasi. Varises ini terdiri dari perubahan vena safena serta pelebaran cabang-cabangnya yang abnormal, memenjang dan berkelok-kelok. Katup-katup vena adalah unidirectoral, yaitu mengalirkan darah ke satu arah, yakni jantung dengan bantuan kompresi dan relaksasi otot-otot kaki. Makin lama, akumulasi tekanan pada katup-katup dapat membuat katup-katup menjadi tidak kompenten. Faktor-faktor resiko seperti obesitas, berdiri atau duduk lama, kehamilan multiple, dan tekanan intra-abdominal yang kronis akan menambah tekanan pada vena. Katup-katup inkonpemten akan membuat vena menjadi kembung secara progesif, membesar, dan berbelit-belit.


Varises sekunder dapat terjadi sebagai akibat perugahan obstruktif dan kerusakan katup pada system vena provunda seperti tromboplebitis atau kadang-kadang pada okulasi vena proksimal akibat neoplasma. Fistula anterovenosa congenital atau akusita sering juga dihubungkan dengan varises.

Vena safena magna dan cabng-cabangnya merupakan bagian yang paling sering terkena, tetapi vena safena parva juga dapat terkena. Terdapat satu atau banyak perforasi vena yang inkompenten pada pahadan tungkai bawah, sehingga darah dapat refluks kedalam vena yang varises tidak hanya dari atas, yaitu melalui jalan taut safenofemoral, tetapi juga dari system profunga pada vena yang inkompenten pada paha tengah atau tungkai bawah. Sebagian besar oleh karena magna atau vena komunikans pendek, tekanan vena tinggi dari dalam system dalam (profunda) (>300 mmHg) yang terjadi selama kompresi betis saat berjalan ditransmisikan ke vena superficial tersebut. Selama bertahun-tahun, vena membesar secara progresif; jaringan sekitar dan kulit dapat mengalami perubahan sekunder seperti fibrosis, edema kronik, dan pigmentasi kulit serta atrofi.

Hal lainnya yang menjadi penyebab varises :
a.    Berkurangnya elastisitas dinding pembuluh vena yang menyebabkan pembuluh vena melemah dan tak sanggup mengalirkan darah ke jantung sebagaimana mestinya. Aliran darah dari kaki ke jantung sangat melawan gravitasi bumi, karena itu pembuluh darah harus kuat, begitu juga dengan dinamisasi otot disekitarnya.
b.  Rusaknya katup pembuluh vena, padahal katup atau klep ini bertugas menahan darah yang mengalir ke jantung agar tidak keluar kembali. Katup yang rusak membuat darah berkumpul di dalam dan menyebabkan gumpalan yang mengganggu aliran darah

Peregangan pembuluh darah ini terjadi karena besarnya tekanan di dalamnya yang mengakibatkan dinding pembuluh darah menjadi lemah dan dengan demikian mudah teregang. Misalnya, tekanan yang bertambah pada pinggul dan perut seperti halnya kehamilan dan terlalu gemuk.

Kehamilan dapat memperberat keadaan, karena pembuluh darah balik panggul yang menampung darah dari tungkai tertekan oleh janin. Biasanya katup yang terdapat di bagian dalam pembuluh juga sudah melemah, sehingga tidak lagi mampu mengatur aliran darah yang masuk ke dalam pembuluh darah tersebut.
Kerentanan seseorang terhadap terjadinya kelainan ini biasanya diturunkan. Kelainan ini sering ditemukan pada tungkai bawah, tungkai atas, dan dinding perut bawah, walaupun pada dasarnya dapat terjadi di bagian tubuh manapun.

Kebanyakan penderita varises adalah wanita yang sehari-harinya banyak berdiri, atau menggunakan sepatu hak tinggi, yang merupakan pencetus terjadinya varises. Selain itu masalah pada wanita adalah kelebihan berat badan, penggunaan kontrasepsi oral, serta kehamilan. Pada saat hamil sirkulasi darah tidak lancar, dan cenderung terjadi pembendungan di kaki, vagina, atau dubur. Tapi yang paling banyak berperan terhadap timbulnya varises adalah pengaruh hormonal saat pubertas, kehamilan, dan menopause.

2.3 Manifestasi Klinis
Secara umum gejala klinis yang biasa ditimbulkan, yakni rasa nyeri, kejang, berat di betis, kram, dan tromboflebitis (panas dan nyeri). Namun sebenarnya gejala varises sendiri ada beberapa tingkatan. Pada tingkat awal, biasanya dimulai dengan keluhan seperti rasa pegal dan kram setelah lama berdiri. Ketika diperiksa secara klinis, belum terlihat tanda-tandanya. Pada derajat varises yang lebih tinggi, mulai tampak adanya kelainan pembuluh darah dan komplikasinya. Kaki terasa berat, rasa pegal tetap ada meskipun sedang beristirahat. Pada tingkat paling berat, timbul pembengkakan di daerah mata kaki, dan warna kulit di sekitar varises menjadi gelap.

Sering dirasakan penderita adalah pembengkakan di sepanjang pembuluh balik, diikuti dengan kekejangan pada otot serta perasaan lelah di tungkai belakang lutut.

Dalam hal lain, kulit pada tungkai bagian bawah mungkin pecah dan menyebabkan borok-borok besar. Selain itu terasa nyeri bila peradangan dan penggumpalan darah pada pembuluh balik terjadi di tungkai.

2.4 Diagnosis Banding
Varises vena primer harus dibedakan dari varises skunder :
1.      Insufisiensi vena kronis pada sistem vena dalam (Sindrome postfebitis)
2.      Obstruksi vena retroperitoneal dari tekanan ekstrinsik atau fibrosis
3.      Fistula arteriovenosa (Kongenital atau didapat)─Bruit ada dan thrill sering dapat dipalpasi
4.      Malformasi vena konginital.
  Nyeri atau ketidaknyamanan skunder pada artritis,radikulopati,atau insufisiensi arteria harus dibedakan dari gejala yang berkaitan dengan keberadaan varises vena.

2.5  Patofisiologi
Berbahaya bila terjadi infeksi pada dinding pembuluh varikose. Infeksi ini mempermudah terbentuknya gumpalan darah yang mungkin mengalir dan tersangkut, kemudian menyumbat pembuluh darah di tempat lain.

Jika kasus ringan, atropi, dan pigmentasi kulit di temukan pada atau diatas pergelangan kaki, ulsrasi skunder dapat terjadi, sering sebagai akibat dari trauma kecil atau bukan trauma.Ulccer kadan-kadang menyebar kedalam variks,dan mengakibatkan vistula yang akan dihubungkan dengan perdarahan parah yang tidak hilang apabila tungkai dinaikan dan tekanan lokal dipakai pada bagian yang mengalami perdarahan.

Dermatitis statis konis dengan infeksi jamur atau bakteri mungkin menjadi sebuah masalah.

Trombiflebitis dapat berkembang pada varises, terutama pada pasien setelah operasi, wanita hamil atau setelah melahirkan, atau wanuita yang menggunakan konstrasepsi oral. trauma lokal atau posisi duduk yang terlalu lama dapat juga menyebabkan trombosis vena superfisia.perluasan pada trpombosis kedalam sistem vena dalam dengan jalan verporasi vena atau melewati savenufemoral-junction dapat terjadi,mengakibatkan tromboflebitis dalam dan resiko emboli fulmo.

2.6 Penatalaksanaan
1.         Terapi non-operatif
Kompesi menggunakan stoking elastis ( medium atau sangat berarti) untruk memberi bantalan external pada vena kaki proksimal dan tungkai atas tetapi tidak termasuk lutut merupakan tindakan nonoperasi yang paling baik pada penatalaksanaan vena varises.(untuk sebagian pasien ,kompresi tinggi 20-30 mmhg biasanya sesuai). berguna untuk mencegah perkembangan varises pada stadium awal penyakit. Ketika stocking digunakan selama beberapa jam, berdiri dan menaikan tungkai jika memungkinkan,  kontrol yang baik untuk mencegah komplikasi perkembangan penyakit. Tindakan ini diterapkan untuk pasien usia lanjut, pasien yang menolak atau menunnda pembedahan/operasi,wanita yang berencana mempunyai anak dan pasien asimtomatok ringan.

2.         Terapi Operatif
Terapi bedah pada varises vena yang terdiri dari eksisi varises dan ligasi pada safenafemoral juction serta cabang-cabangnya apabila diindikasikan.Gambaran akurat pada yang terakhir diperlukan untuk mencegah bentuk varises berulang pada vena yang sebelumnya tidak terkena.Segmen vena yang tidak inkompeten dan mengalami varises tidak harus di ligasi atau dihilangkan; mereka mungkin diperlukan sebagai cangkok ateri untuk kehidupan pasien pada waktu yang akan datang.

Ulcus varises yang kecil mumnya dengan perawatan lokal,elevasi eksterminitas yang sering ,dan kompresi dengan pembalut atau beberapa bentuk komprese dengan pemakaian dengan sepatu tinggi untuk paien rawat jalan .Baik untuk melakukan prosedur Stripping sampai terjadi penyembuhan dan dermatitis stasis terkendalli.Beberapa ulkus memerlukan cangkok kulit.

3.         Skeloterapi kompersi
Skeroterapi untuk obliterasi dan tindakan permanen pada fibrosis pada vena yang terlibat umumnya di berikan untuk pengobatan residual varise kecil yang mengikuti  operasi varises vena. Injeksi lanjutan sklerosing ke dalam varise vena diikuti dengan priode kompresi akan menghasilkan obliterasi vena. Komplikasi seperti flebitis,nekrosis jaringan , atau infeksi dapat terjadi,dan berbagai keadaan dapat terjadi,tergantung ketrampilan operator.

2.7 Pencegahan Varises
Ada beberapa cara untuk mencegah varises sejak dini anatara lain adalah :
1.      Olah raga secara teratur akan meningkatkan kekuatan otot kaki dan vena.Jaga berat badan tetap seimbang karena kalau tubuh gemuk berarti kaki harus menanggung beban berat yang berlebihan.
2.      Kurangi penggunaan sepatu hak tinggi karena menyebabkan tumpuan kaki lebih banyak ke depan sehingga penggunaan otot betis tidak maksimal. Bila menggunakannya, seringlah istirahat dan menggerak-gerakkan kaki setiap 15 menit.
3.      Hindari berdiri terlalu lama, namun kalau pekerjaan mengharuskan banyak berdiri pindahkan beban dari satu kaki ke kaki lainnya setiap beberapa menit.
4.      Jangan duduk sambil menyilangkan kaki terlalu lama karena dapat menghambat peredaran darah.
5.      Jangan gunakan pakaian sempit atau ketat pada bagian pinggang, paha, dan kaki.
6.      Biasakan mengonsumsi vitamin C dan E, selain baik untuk pembuluh darah, juga membantu mengurangi rasa sakit dan kram.
7.      Banyak makan bergizi, berkadar serat tinggi, buah dan sayur, untuk memperlancar buang air besar Kurangi konsumsi garam untuk menghindari pembengkakan.
8.      Hindari makanan pedas karena dapat merangsang pelebaran pembuluh darah.
9.      Lakukan senam kaki. Caranya: sambil duduk, putar pergelangan kaki searah jarum jam, lalu dan belakang.
10.  Angkat kaki saat beristirahatBerdiri dan bergerak setiap 45 menit bila bepergian dengan pesawat terbang, atau saat duduk bekerja seharian, berhenti dan berjalan sebentar sedikitnya setiap 45 menit bila bepergian jauh dengan mobil.
11.  Mandi dengan air panas dan dingin bergantian sangat baik untuk peredaran darah



DAFTAR PUSTAKA

  1. Baradero Mary. 2003. Seri Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Kardiovaskuler, EGC: Jakarta.
  2. Engram Barbara. 1998. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal-Bedah Volume 3, EGC: Jakarta.
  3. Engram Barbara. 1998. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal-Bedah Volume 2, EGC: Jakarta.
  4. Tieney M. Lawrence, Jr.,MD. 2003. Diagnosis dan Terapi Kedokteran Penyakit Dalam Buku 2. Salemba Medika. Jakarta.
  5. www.medicastrore.com
  6. www.indonesianursing.com





Friday, May 22, 2015

Satuan Acara Penyuluhan
(SAP)

Bayi Berat Lahir Besar


Description: Logo+Universitas+Muhammadiyah+Surabaya-2.jpg (831×827)



Oleh :
                                   
                        Debby Ayu Lestari    ( 20130661018 )
                   Zendy Prariyani K.P  ( 20130661020 )




Program Studi D3 Kebidanan
Universitas Muhammadiyah Surabaya
2015-2016





Lembar Pengesahan

            Satuan acara penyuluhan ini di buat dalam rangka penyuluhan Bayi Berat Lahir Besar di Ruang NICU RSU Haji Surabaya.
            Yang dilaksanakan pada tanggal   Mei 2015, oleh mahasiswa akademi kebidanan
Muhammadiyah Surabaya tahun akademik 2015-2016.










Surabaya,   Mei 2015


    Mengetahui,

Pembimbing Praktek Katim NICU                                         Pembimbing Akademik







 



Satuan Acara Penyuluhan

Bidang Studi              : D3 Kebidanan
Pokok Bahasan         : Bayi Berat Lahir Besar
Sub Pokok Bahasan  : 1. menjelaskan definisi bayi berat lahir besar (makrosomia)
                                      2. menjelaskan etiologi bayi berat lahir besar
                                      3. tanda dan gejala bayi berat lahir besar
                                      4. Pemeriksaan diagnostic Bayi Berat Lahir Besar
                                      5. penatalaksanaan bayi berat lahir besar
Sasaran                      : ibu menyusui dan ibu nifas
Tempat                       : Ruang NICU RSU Haji Surabaya
Hari/tanggal               : 15 Mei 2015
Waktu                        : 1 x 30 menit


1.                  TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
                  Setelah di berikan penyuluhan selama 30 menit tentang bayi berat lahir                               besar diharapkan ibu dapat mengerti dan memahami tentang bayi berat lahir besar.

2.                  TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Setelah di berikan penyuluhan selama 30 menit tentang bayi berat lahir besar diharapkan ibu dapat :
a.      menjelaskan definisi bayi berat lahir besar (makrosomia)
b.      menjelaskan etiologi bayi berat lahir besar
c.       tanda dan gejala bayi berat lahir besar
d.   Pemeriksaan diagnostic Bayi Berat Lahir Besar
e.       penatalaksanaan bayi berat lahir besar
f.       MATERI
·         Definisi Bayi Berat Lahir Besar ( makrosomia )
·         Etiologi Bayi Berat Lahir Besar
·         Tanda dan gejala Bayi Berat Lahir Besar
·         Pemeriksaan diagnostic Bayi Berat Lahir Besar
·         Penatalaksanaan Bayi Berat Lahir Besar
g.      METODE
·         Ceramah
·         Tanya jawab
h.      MEDIA
·         Leaflet bayi berat lahir besar (makrosomia)
·         Power point

i.        KEGIATAN PENYULUHAN
No.
Pembagian
Waktu
Kegiatan Penyuluhan
Kegiatan Peserta
1.
Pembukaan
3 menit
1.    Mengucapkan salam,
2.    Memperkenalkan diri,
3.    Menjelaskan tujuan dari penyuluhan,
4.    Menentukan kontrak waktu,
5.    Menyebutkan materi penyuluhan yang akan diberikan
1.Menjawab salam
2.Mengenal tim penyuluh
3.    Mengerti tujuan dari penyuluhan
4.    Mengetahui kontrak waktu
5.    Mengetahui apa saja yang akan disampaikan
2.
Pelaksanaan
15menit
1.        menggali pengetahuan ibu mengenai perawatan pada bayi Berat Badan Lahir Besar (makrosomia)
2.        Menyampaikan materi :
a.       Definisi Bayi Berat Lahir Besar (makrosomia)
  1. Etiologi Bayi Berat Lahir Besar
  2. Tanda dan gejala Bayi Berat Lahir Besar
  3. Pemeriksaan diagnostic Bayi Berat Lahir Besar
  4. Penatalaksanaan Bayi Berat Lahir Besar
3.      Memberikan kesempatan untuk bertanya dan menjawab pertanyaan
1.      Bersedia
2.      Menyimak
3.      Memperhatikan
4.      Mengklarifikasi pertanyaan
5.      Memberi kesimpulan
4.
Penutup
2 menit
1.      Melakukan feed back (timbal balik) dengan memberi pertanyaan kepada peserta tentang materi yang telah diberikan
2.      Mengucapkan terima kasih dan memberi salam
1.      Menjawab pertanyaan
2.      Menjawab salam

j.        EVALUASI
a.       Evaluasi struktur
§  kesiapan materi
§  kesiapan SAP
§  Kesiapan media : Power point
§  Peserta hadir di tempat penyuluhan
§  Penyelenggaraan penyuluhan di Ruang NICU RSU Haji Surabaya
§  Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelumnya

b.      Evaluasi Proses
§  fase di mulai sesuai waktu yang di rencanakan
§  peserta antusian terhadap materi penyuluhan
§  peserta mengajikan pertanyaan dan menjawab pertnyaan dengan           benar
§  tidak ada peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan
§  jumlah peserta hadir dalam penyuluhan minimal 10 ibu  

k.      PENGORGANISASIAN
 Pembawa Acara   : Debby Ayu Lestari
 Pembicara            : Zendy Prariyani K.P









Materi Penyuluhan
Bayi Berat Lahir Besar

A. Definisi
Makrosomia adalah bila berat badannya lebih dari 4000 gram. Berat neonatus pada umumnya kurang dari 4000 gram dan jarang melebihi 5000 gram. Frekuensi berat badan lahir lebih dari 4000 gram adalah 5,3% dan yang lebih dari 4500 gram adalah 0,4%. (Chamberlain, 1994).

B. Etiologi
Beberapa keadaan pada ibu dapat menyebabkan terjadinya kelahiran bayi besar / baby giant.
Faktor-faktor dari bayi tersebut diantaranya :

  1. Bayi dan ibu yang menderita diabetes sebelum hamil dan bayi dari ibu yang menderita diabetes selama kehamilan. Sering memiliki kesamaan, mereka cenderung besar dan montok akibat bertambahnya lemak tubuh dan membesarnya organ dalam, mukanya sembab dan kemerahan (plethonic) seperti bayi yang sedang mendapat kortikosteroid. Bayi dari ibu yang menderita diabetes memperlihatkan insiden sindrom kegawatan pernafasan yang lebih besar dari pada bayi ibu yang normal pada umur kehamilan yang sama. Insiden yang lebih besar mungkin terkait dengan pengaruh antagonis antara kortisol dan insulin pola sintesis surfakton.
  2. Terjadinya obesitas pada ibu juga dapat menyebabkan kelahiran bayi besar (bayi giant).
  3. Pola makan ibu yang tidak seimbang atau berlebihan juga mempengaruhi kelahiran bayi besar.

C. Tanda dan gejala
        1.      Berat badan lebih dari 4000 gram pada saat lahir
        2.      Wajah menggembung, pletoris (wajah tomat)
        3.      Besar untuk usia gestasi
        4.      Riwayat intrauterus dari ibu diabetes dan polihidramnion.

D. Komplikasi

a.       Gangguan matabolisme karbohidrat
Energi tambahan yang diperlukan neonatus pada jam-jam pertama sesudah lahir,  diambil dari metabolisme asam lemak,  sehingga kadar gula darah dapat mencapai 120 mg/100 ml. Pada bayi besar terjadi gangguan pada metabolisme asam lemak yang tidak dapat memenuhi kebutuhan neonatus, maka kemungkinan besar bayi akan mengalami hipoglikemia.

b.      Gangguan suhu tubuh
Segera bayi lahir,  bayi akan berada ditempat yang suhu lingkungannya lebih rendah dari lingkungan dalam rahim. Suhu tubuh neonatus yang normal yaitu sekitar 36.5 °C sampai 37 °C. Bila bayi dibiarkan pada suhu kamar (25 °C) maka bayi akan kehilangan panas melalui evaporasi atau penguapan,  konveksi dan radiasi sebanyak 200 kal/kg BB/menit, sedangkan pembentukan panas yang dapat diproduksi hanya sepersepuluh dari kehilangan panas diatas,  dalam waktu yang bersamaan hal ini akan menyebabkan penurunan suhu sebanyak 2 °C dalam waktu 15 menit.
Akibat suhu yang rendah metabolisme jaringan akan meningkat dan berakibat lebih mudah terjadinya oksidosis metabolik berat sehingga kebutuhan oksigen akan meningkat,  selain itu hipotermi yang terjadi pada neonatus dapat menyebabkan hipoglikemia. Untuk mengurangi kehilangan panas tersebut diatas dapat ditanggulangi dengan mengatur suhu lingkungan,  membungkus badan bayi dengan kain hangat,  membungkus kepala bayi,  disimpan ditempat tidur yang sudah dihangatkan atau dimasukkan sementara ke dalam inkubator.


E. Pemeriksaan diagnostik
1.      Pemantauan glukosa darah, kimia darah, analisa gas darah
2.      Hemoglobin (hb), hematokrit (ht).

F. Penatalaksanaan medis
Pemeriksaan klinik yang seksama terhadap janin yang sedang tumbuh, disertai dengan faktor-faktor yang diketahui merupakan predisposisi terhadap makrosomia (bayi besar) memungkinkan dilakukannya sejumlah kontrol terhadap pertumbuhan yang berlebihan. Peningkatan resiko bayi besar jika kehamilan dibiarkan hingga aterm harus diingat dan seksio sesarea efektif harus dilakukan kapan saja persalinan pervaginam.
            1.      Pemantauan glukosa darah (pada saat datang atau umur 3 jam, kemudian tiap 6 jam sampai 24                     jam atau bila kadar glukosa < 45 gr% dua kali berturut-turut.
            2.  Pemantauan elektrolit
            3.  Pemberian glukosa parenteral sesuai indikasi
            4.  Bolus glukosa parenteral sesuai indikasi
           5.   Hidrokortison 5 mg/kg/hari im dalam dua dosis bila pemberian glukosa parenteral tidak efektif.












Daftar Hadir Peserta
Penyuluhan Kesehatan Di Ruang NICU RSU Haji Surabaya Untuk Meningkatkan Pengetahuan Dan Perawatan Pada Bayi Berat Badan Lahir Besar (makrosomia)

No.
Nama
Alamat
TTD
1.


1.
2.


2.
3.


3.
4.


4.
5.


5.
6.


6.
7.


7.
8.


8.
9.


9.
10.


10.
11.


11.
12.


12.
13.


13.
14.


14.
15.


15.



Daftar Pertanyaan Peserta
Penyuluhan Kesehatan Di Ruang NICU RSU Haji Surabaya Untuk Meningkatkan Pengetahuan Dan Perawatan Pada Bayi Berat Badan Lahir Besar (makrosomia)

No.
Nama
Pertanyaan
Jawaban








Daftar Pustaka

1.      Chamberlain, Geofferey. 1994. Obstetrik dan Ginekologi Praktis. Jakarta : Widya Medika
2.      Ledewig. W. Patricia. 2005. Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir. Jakarta :EGC
3.      Manumba, Ida Bagus. 1993. Penuntun Kepanitraan Klinik Obstetrik dan Ginekologi. Jakarta : EGC
4.      Oxorn, Harry. 1990. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan . Yayasan
            Esentia Medika.

By :
Free Blog Templates